√ Biografi Guntur Soekarno Putra: Putra Sulung Sang Proklamator - InBiografi | Referensi Biografi Tokoh Dunia

√ Biografi Guntur Soekarno Putra: Putra Sulung Sang Proklamator

Biografi Guntur Soekarno Putra - Terlahir dari istri Ir. Soekarno yang ketiga, yakni Fatmawati, Guntur Soekarnoputra juga merupakan putra pertama dari Bung Karno. Dipernikahan sebelumnya memang diketahui bahwa Bung Karno belum dikaruniai anak. Dengan kata lain, Guntur Soekarnoputra adalah saudara laki-laki tertua dari putra dan putri Soekarno. Setelah kelahirannya, dari ibu yang sama, barulah lahir Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri dan Guruh Soekarnoputra.
Profil dan Biografi Guntur Soekarno Putra
Guntur Soekarno Putra
Sebagai anak laki-laki mbarep (istilah jawa) atau sulung, Guntur Soekarnoputra disebut-sebut memiliki kedekatan tersendiri dengan sang ayah. Bahkan, ia memiliki satu sapaan akrab khusus dari sang ayah dan ibu. Bung Karno selalu memanggil anaknya tersebut dengan sebutan ‘Tok!’, sedangkan ibunya (Fatmawati) menyebut ‘Bujang’ ketika memanggilnya. Menurut penuturan orang-orang terdekat yang mengenal berbaur langsung dengan Bung Karno, Guntur disebut-sebut sebagai sosok anak yang paling mewakili sifat sang Ayah. Ia dikenal sebagai seorang laki-laki yang sangat sederhana, dan memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Juga sama seperti sang Ayah, Guntur sejak kecil adalah sosok pemimpi. Ia memiliki banyak cita-cita yang ingin diraihnya. Sayangnya semua dari cita-cita yang sejak kecil diimpi-impikan tak ada satupun yang bisa terwujud. Salah satunya adalah cita-cita untuk menjadi seorang seniman lukis yang merupakan impiannya ketika masih duduk di bangku SD. Pun begitu, jiwa seni Guntur tak berhenti meskipun ia tak berhasil menjadi seorang pelukis. Mulai dari SMA hingga duduk di bangku perkuliahan, Guntur aktif dalam kegiatan seni musik. Ia mendirikan sebuah grup bersama kawan-kawan sekolahnya yang lain. Hingga akhirnya, ia berhasil menyelesaikan studinya di perguruan tinggi ITB atau Institut Negeri Bandung tempat ayahnya dulu menimba ilmu. Ia lulus dari perguruan tinggi ITB pada tahun 1966, menjelang masa surutnya kekuasaan sang Ayah sebagai presiden pertama RI.

Guntur Soekarnoputra Menikah

Ketika menginjak usia dewasa dan memutuskan untuk melangsungkan pernikahan, kondisi yang tak mengenakkan dialami oleh Guntur Soekarnoputra. Kala itu, suasana politik di tanah air sedang memanas, dan ayahnya sebagai pemimpin negara sedang mengalami masa-masa sulit. Kondisi yang seperti ini membuat Guntur harus melangsungkan pernikahan dengan wanita pujaan hatinya tanpa didampingi oleh sang ayah. Kala itu, selain Bung Karno yang sedang menderita sakit, beliau juga menjadi tahanan rumah dan dilarang keras untuk keluar oleh rezim Soeharto.

Wanita pilihannya adalah gadis cantik yang dikenal dengan julukan si Ratu Kebaya Bandung, bernama Henny Emilia Hendayani. Mereka berdua saling kenal ketika sedang melanjutkan studi di jenjang perkuliahan di ITB Bandung. Kisah asmaranya dengan si gadis kota Kembang itupun penuh dengan cerita unik dan kesederhanaan yang kontras dengan latar belakangnya sebagai putra presiden. Suatu ketika, di momen pertama Guntur dan Henny berkencan, perasaan gugup dan canggung dirasakan oleh Henny. Di kamar ia sibuk berdandan dan memilih baju yang sangat rapi, menurut perkiraannya Guntur akan menjemput dirinya menggunakan mobil yang mewah. Namun, kenyataannya tak seperti yang dibayangkan. Guntur datang dengan mengendarai sebuah kendaraan motor jenis skuter tua dan butut. Bahkan, tujuan makan malamnya saat itu juga bukan di restoran mahal yang terkenal, melainkan di warung pinggir jalan.

Pernikahan Guntur-Henny akhirnya berlangsung pada bulan Februari tahun 1970 dengan penuh suasana keharuan. Sahabat Soekarno yang kala itu sedang berselisih paham, yakni Bung Hatta hadir di pernikahan Guntur. Bukan hanya sebagai tamu biasa, namun ia mewakili sahabatnya untuk menjadi wali dari Guntur yang juga telah dianggapnya sebagai anak sendiri.

Dianggap Mewakili Sosok Sang Ayah

Sepeninggal sang Ayah, sosok Guntur digadang-gadang bisa menjelma sebagai duplikat dari ayahnya. Banyak masyarakat yang mengharapkan agar dirinya mau menjadi pemimpin Nasional, seperti Bung Karno. Bahkan juga banyak yang menyebutkan bahwa Guntur mewarisi kharisma sang Ayah. Sayangnya, bukan suatu perkara yang mudah untuk membujuk beliau agar mengiyakan kemauan sebagian masyarakat yang mengusungnya. Bahkan hanya sekedar disamakan atau diidentikkan dengan ayahnya saja, pria kelahiran 4 November 1944 ini selalu menolak dengan tegas.

Suatu contoh, ada sebuah kisah yang menceritakan tentang Guntur dan peci hitam milik Bung Karno. Pada satu ketika, dikisaran tahun 70an sepeninggal sang Proklamator RI, Bung Karno, banyak sekali orang yang merasa kehilangan sosok beliau. Banyak dari para pengagum Bung Karno yang meminta hingga setengah memaksa kepada Mas Tok (Guntur) agar mau dipotret mengenakan peci hitam peninggalan milik sang Ayah. Namun, dengan bersikeras Mas Tok menolak permintaan tersebut. Orang-orang itu menganggapnya sangat mirip dengan karakter dan sosok Bung Karno. Sayang, sayang sulit membujuk Pak Guntur, ia tetap saja dengan pendiriannya tak mau disamakan dengan sang Ayah. Bahkan hingga saat ini, tak pernah sekalipun ditemukan Mas Tok atau Guntur, anak mbarep Bung Karno memakai peci berwarna hitam ala ayahandanya.

Menolak Ketika Diminta Memerankan Sosok Sang Ayah

Ada lagi kisah unik yang menceritakan tentang Guntur Soekarnoputra dengan ketegasannya yang menolak diidentikkan dengan sang Ayah. Suatu ketika ada seorang pengusaha besar yang ingin memproduksi film tentang Bung Karno. Film tersebut diberi judul “Kuantar Ke Gerbang”. Sebuah produksi film yang menceritakan kembali kisah asmara Bung Karno dengan istri keduanya, Inggit Garnasih. Sang produser film menginginkan agar peran Bung Karno diisi langsung oleh sang anak tertua, yakni Guntur Soekarnoputra.

Sampailah penawaran tersebut kepada Guntur. Tak main-main, sebagai bukti keseriusan dalam penggarapan filmnya, sang produser menyodorkan selembar cek kosong kepada Guntur. Jika ia bersedia memerankan peran sebagai Bung Karno, Guntur diberi kewenangan untuk mengisi sendiri nominal pada cek kosong tersebut. Tapi, lagi-lagi itu tak menggoyahkan prinsip Mas Tok. Ia tetap teguh pada pendiriannya, sama sekali tak mau terlihat identik dengan sang Ayah. Dengan entengnya Mas Tok menolak tawaran bernilai fantastis itu, seperti tanpa beban sama sekali. Akhirnya, film itupun batal produksi hanya karena Mas Tok tak mau memerankan karakter sang Ayah dalam film tersebut.

Hingga saat ini, belum ada yang tahu pasti alasan dari Mas Tok selalu menolak disandingkan namanya dengan nama besar Proklamator Republik Indonesia yang notabene adalah ayah kandungnya sendiri.

Menolak Terjun Ke Gelanggang Politik

Meskipun banyak masyarakat yang disebut ingin Guntur Soekarnoputra meneruskan jejak sang Ayah di kancah politik. Namun, pada kenyataannya hingga saat ini sangat jarang sekali kita temui wajah Guntur Soekarnoputra tampil di event-event perpolitikan tanah air. Meskipun banyak sekali upaya untuk merayunya agar mau terjun ke dunia politik, Guntur seakan tak bergeming. Hal ini seakan bertolak belakang dengan aktivitasnya semasa masih duduk di bangku kuliah. Ia aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan sebagai seorang aktivis.

Dilansir dari detiknews (28/7/2004), suatu ketika ada ratusan orang massa mendatangi kediaman dari Guntur Soekarnoputra. Mereka menaiki tidak kurang dari 8 kendaraan metromini untuk sampai di rumah putra sulung Presiden RI pertama tersebut. Setibanya di Jl. Cempaka Putih Barat, Jakarta tempat domisili Guntur, pemimpin rombongan mengutarakan maksudnya bahwa massa yang hadir sebagai perwakilan masyarakat yang mengharapkan Mas Tok kembali ke panggung politik. Namun sayang, menurut penuturan dari satpam penjaga rumah Guntur Soekarnoputra, kala itu sang empunya rumah sedang tak berada disana, melainkan masih ada di luar kota. Meskipun demikian massa tak berhenti menyuarakan maksudnya, melalui speaker atau pengeras suara yang dibawa pemimpin massa. Mereka tetap dengan setia mengikuti setiap orasi yang dilangsungkan, sembari sesekali meneriakkan yel yel.. Hidup Rakyat!! Hidup Rakyat!!

Sesekalinya Guntur Soekarnoputra keluar di hadapan masyarakat banyak itupun ketika ia hadir dalam sebuah gelaran yang diadakan untuk memperingati hari lahir Bung Karno yang ke 108 di Rengasdengklok. Walaupun demikian, ketika itu anak sulung sang Proklamator hanya hadir dihadapan para massa selama tak lebih dari 10 menit. Dalam Biografi Guntur Soekarnoputra juga diketahui, adapun pidato yang disampaikan masih suatu yang bersifat umum dan tak terlalu menyinggung tentang masalah politik.

0 Response to "√ Biografi Guntur Soekarno Putra: Putra Sulung Sang Proklamator"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel