√ Biografi Cut Nyak Dien, Pahlawan Nasional Wanita dari Tanah Rencong - InBiografi | Referensi Biografi Tokoh Dunia

√ Biografi Cut Nyak Dien, Pahlawan Nasional Wanita dari Tanah Rencong

Aceh terkenal sebagai daerah dimana banyak terlahir pahlawan-pahlawan perempuan yang cerdas, tangguh, gigih, semangat dan sangat pemberani dalam melawan imperalisme, salah satu yang paling melekat ialah Cut Nyak Dien. Cut Nyak Dien merupakan salah satu pahlawan wanita yang berasal dari Aceh dengan semangat perjuangan yang sangat tinggi dalam melawan penjajah.

Hingga saat ini, nama Cut Nyak Dien diabadikan dan selalu diingat bahkan mengetahui dan memahami biografi Cut Nyak Dien menjadi kewajiban seorang pelajar. Dalam usianya yang sudah lanjut, keberaniannya sekeras baja untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Seperti apa riwayat biografi Cut Nyak Dien, simak selengkapnya di bawah ini.
Biografi Cut Nyak Dien, Pahlawan Nasional Wanita dari Tanah Rencong

Biodata Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien terkenal dengan sebutan Pahlawan Nasional dari Tanah Rencong. Ketika usianya sudah lanjut ia tetap gigih tanpa rasa takut melawan penjajahan kolonial Belanda, dengan membawa rencong di tangannya dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia hingga akhirnya Cut Nyak Dien ditangkap dan dibuang oleh kolonial Belanda.

Dalam biografi Cut Nyak Dien menyebutkan, Pahlawan dari Tanah Rencong ini memiliki nama asli Tjoet Njak Dhien. Beliau lahir di Lampadang, Aceh pada tahun 1848. Cut Nyak Dien memeluk agama Islam yang menjadi agama mayoritas Bangsa Indonesia.

Pada tahun 1862 Cut Nyak Dien menikah dengan Teuku Cak Ibrahim Lamnga pada usianya yang baru 12 tahun. Suami dari Cut Nyak Dien juga berasal dari darah bangsawan. Pernikahannya ini dikaruniai satu orang anak yang diberi nama Cut Gambang. Beliau berasal dari keluarga bangsawan yang agamis di Aceh.

Dihitung dari garis keturunan ayahnya, Cut Nyak Dien merupakan keturunan langsung dari Sultan Aceh. Tidak heran, meski terlahir sebagai kaum perempuan namun semangat perjuangannya melawan penjajahan kolonial Belanda setangguh dan sekeras baja.

Perjuangan Cut Nyak Dien

Setelah mengupas tentang biodata dari Cut Nyak Dien, dalam biografi Cut Nyak Dien kali ini, Anda juga dapat mengetahui segigih apa perjuangan pahlawan wanita asal Aceh ini hingga mendapat sebutan Pahlawan Nasional dari Tanah Rencong.

Pada tanggal 26 Maret tahun 1873, Perang Aceh mulai meluas. Dalam peperangan tersebut, ayah dan suami Cut Nyak Dien menjadi pemimpin perang di garis terdepan. Dengan semangat nasionalisme ayah dan suami dari Cut Nyak Dien ini melawan pasukan kolonial Belanda yang sudah memiliki perlengkapan persenjataan modern.

Setelah bertahun-tahun melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda, akhirnya pasukan Indonesia terdesak dan memutuskan untuk mengungsi ke daerah yang lebih terpencil.

Semangat perjuangan Cut Nyak Dien melawan Belanda mulai bangkit. Peristiwa gugurnya sang suami Teuku Cak Ibrahim Lamnga dalam peperangan melawan penjajahan Belanda pada tanggal 29 Juni 1878 mengundang kemarahan yang semakin memuncak dan keberanian pahlawan wanita Aceh ini.

Meski dalam suasana pilu kehilangan suami tercinta, semangatnya untuk Indonesia tetap membara. Dalam upacara penguburan suaminya, Teuku Cak Ibrohim Lamnga, Cut Nyak Dien bertemu dengan Teuku Umar.

Dalam biografi Cut Nyak Dien menyebutkan, Cut Nyak Dien akhirnya menikah kembali dengan Teuku Umar. Awalnya ia menolak saat dipinang Teuku Umar, namun akhirnya setuju untuk menikah dengan Teuku Umar setelah calon suaminya bersedia ikut turun ke medan perang.

Teuku Umar sendiri sebenarnya masih memiliki garis kekeluargaan dengan Cut Nyak Dien. Teuku Umar inilah yang kemudian menjadi suami Cut Nyak Dien sekaligus rekan perjuangan dalam memperjuangkan Tanah Rencong.

Cut Nyak Dien sangat ingin mengusir Belanda dari tanah kelahirannya karena sangat meresahkan dan mengusik ketenangan penduduk. Dengan menggalang kekuatan dan mengumpulkan segenap pejuang Aceh lainnya, Cut Nyak Dien gencar melakukan serangan terhadap pasukan kolonial Belanda dengan menggunakan perang gerilya atau perang dengan sistem sembunyi-sembunyi. Hingga akhirnya berhasil membuat panik pasukan Belanda yang berada di Aceh.

Dalam sejarah biografi Cut Nyak Dien, beliau pernah mendapat umpatan dari Cut Nyak Mutia karena strategi suami keduanya yaitu Teuku Umar yang berpura-pura menyerahkan diri kepada pasukan kolonial Belanda dan berpura-pura berada pada pihak Belanda.

Sebenarnya, jika terjalin komunikasi yang baik sebelum melakukan strategi tersebut, Cut Nyak Mutia tidak perlu melakukan hal tersebut. Cut Nyak Mutia belum tau kalau penyerahan diri yang dilakukan Teuku Umar hanyalah sebuah siasat belaka.

Hal ini dilakukan Teuku Umar untuk merampas persenjataan yang dimiliki oleh Belanda, setelah berhasil mendapatkan persenjataan Belanda dalam jumlah yang banyak, Teuku Umar kembali kepada Cut Nyak Dien dan pejuang Aceh lainnya.

Setelah Belanda menyadari perbuatan Teuku Umar tersebut, Belanda menjadi sangat marah dan melakukan serangan besar-besaran untuk memburu pasangan Cut Nyak Dien dan suaminya. Teuku Umar akhirnya gugur dalam pertempuran Meulaboh yang terjadi pada tanggal 11 Februari 1899. Dengan hal ini pula dinyatakan bahwa Cut Nyak Dien kehilangan suami keduanya.

Sementara itu, Belanda memahami jika pasukan Cut Nyak Dien mulai melemah dan hanya bisa menghindar dengan tekanan. Karena usia yang sudah mulai menua dan kondisi fisik yang mulai renta, kesehatan Cut Nyak Dien pun mulai mulai menurun. Namun semangat juangnya masih membara dan tetap melanjutkan pertempuran.

Melihat kondisi demikian Pang Laot Ali selaku panglima perang menawarkan untuk menyerahkan diri saja ke pasukan Belanda. Tetapi pahlawan wanita dari Tanah Rencong ini tetap teguh pendirian dan bersikeras untuk tetap melakukan pertempuran.

Akhirnya, hanya dalam kurun waktu yang cukup singkat, Cut Nyak Dien berhasil ditangkap pasukan Belanda dan diasingkan ke Pulau Jawa tepatnya di Sumedang Jawa Barat pada tanggal 11 Desember 1905. Hal ini dilakukan Belanda dengan tujuan untuk mengamankan Aceh dari pengaruh semangat juangnya melawan Belanda.

Makam Cut Nyak Dien

Di dalam pengasingannya, Cut Nyak Dien semakin renta dan mengalami gangguan penglihatan. Beliau mengajarkan pendidikan agama di sana. Sampai akhir hayatnya, Cut Nyak Dien tetap merahasiakan jati dirinya yang sebenarnya.

Dijelaskan dalam biografi Cut Nyak Dien, beliau akhirnya wafat pada tanggal 6 November 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang. Makam Cut Nyak Dien baru diketahui secara pasti saat pemuda Aceh sengaja melakukan penelusuran.

Penghargaan Cut Nyak Dien

Kisah perjuangan Pahlawan Nasional dari Tanah Rencong ini membuat seorang penulis dari Belanda yang bernama Ny. Szekly Lutof merasa kagum dan memberinya gelar sebagai Ratu Aceh.

Kepahlawanan Ratu Aceh ini menjadi kebanggaan Bangsa Indonesia dengan mengabadikan namanya sebagai pahlawan wanita dan biografi Cut Nyak Dien menjadi salah satu pelajaran sejarah yang wajib diketahui seorang pelajar.

Atas kegigihan semangat perjuangannya dan pengorbanannya yang begitu besar bagi Bangsa Indonesia, Cut Nyak Dien dinobatkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional. Penobatan tersebut dikuatkan dengan SK Presiden RI NO 1964 dengan tanggal 2 Mei 1964. Keharuman sejarah biografi Cut Nyak Dien tetap selalu dikenang dengan manis oleh bangsa Indonesia hingga saat ini dan seterusnya.

Menarik sekali bukan mengetahui biografi Cut Nyak Dien ini, pahlawan wanita dari Tanah Rencong yang dengan semangat membara membela tanah air tercinta ini. Sudah selayaknya sebagai generasi penerus bangsa untuk mempertahankan kemerdekaan RI dengan semangat prestasi, dan dari beliau juga Anda sebagai kaum wanita tidak boleh kalah semangat dari kaum lelaki seperti yang dilakukan oleh Ratu Aceh ini.

0 Response to "√ Biografi Cut Nyak Dien, Pahlawan Nasional Wanita dari Tanah Rencong "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel