√ Biografi Pangeran Antasari, Sultan Banjar yang Gigih Melawan Penjajahan Kolonial Belanda - InBiografi | Referensi Biografi Tokoh Dunia

√ Biografi Pangeran Antasari, Sultan Banjar yang Gigih Melawan Penjajahan Kolonial Belanda

Inbiografi - Banjar merupakan salah satu nama kota yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan. Kota ini merupakan tempat dimana salah satu sosok seorang pahlawan dilahirkan, beliau bernama Pangeran Antasari.

Biografi Pangeran Antasari banyak diriwayatkan dalam berbagai sumber, hal ini karena perjuangan dan pengorbanan beliau yang sangat besar sebagai seorang Pahlawan Nasional RI. Untuk mengetahui secara lebih detail tentang kepahlawanan Pangeran Antasari, berikut biografi Pangeran Antasari selengkapnya.

Profil dan Biodata Pangeran Antasari

Profil dan Biodata Pangeran Antasari
Pangeran Antasari
Pangeran Antasari merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau merupakan putera dari Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman dengan Pangeran Masohut bin Pangeran Amir. Lahir pada tahun 1809 di Banjar, Kalimantan Selatan, tepatnya di Kayu Tangi. Beliau meninggal pada usia 53 tahun yaitu pada tanggal 11 Oktober tahun 1962.

Pangeran Antasari bin Pangeran Mas’ud bin Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah ini merupakan keluarga kesultanan Banjarmasin, tetapi beliau hidup dan dibesarkan di luar Martapura.

Pada tahun 1957 terjadi perselisihan di dalam istana kesultanan. Hal ini dikarenakan ikut campur Belanda yang mengangkat Pangeran Tamjidillah sebagai sultan. Padahal hal ini sebenarnya tidak dikehendaki oleh rakyat dan kalangan istana. Karena harapan rakyat adalah yang diangkat sebagai sultan adalah pangeran Hidayatulloh.

Gerakan perlawanan rakyat pun muncul menentang pemerintah boneka bentukan Belanda. Menentang Belanda juga kemudian bergabung dengan rakyat dan mempersatukan gerakan perlawanan. Setelah pasukan cukup kuat yang juga didukung oleh para ulama mengobarkan Perang Banjar.

Tambang Batubara Belanda yang dan benteng Belanda di Pengaron menjadi sasaran utama. Rakyat yang juga dibantu Pangeran Hidayatullah menyusul penghapusan Kerajaan Banjar oleh Belanda pada tanggal 11 Juni tahun 1860.

Pangeran Antasari Pewaris Kerajaan Banjar

Pada masa mudanya, Pangeran Antasari terkenal dengan nama Gusti Inu Kartapati. Putra dari Pangeran Masohut (Mas’ud) bin Amir dan Gusti Khadijah binti Sultan Sulaiman ini memiliki seorang adik perempuan yang bernama Ratu Antasari atau disebut juga Ratu Sultan Abdul Rahman yang dahulu meninggal setelah melahirkan anaknya yang bernama Rakhmatillah.

Rakhmatillah sendiri merupakan seorang pewaris kesultanan Banjar. Namun saat masih bayi pun anaknya juga ikut meninggal.

Dalam berbagai sumber yang meriwayatkan biografi Pangeran Antasari menjelaskan, Pangeran Antasari bukan hanya sebagai pemimpin Suku Banjar, beliau juga sebagai pemimpin Suku Kutai, Bakumpai, Maanyan, Murung, Siang, Sihong, Ngaju, Pasir dan beberapa nama suku lainnya yang berada di wilayah dan pedalaman atau sepanjang Sungai Barito, baik yang beragama Islam maupun yang kaharingan.

Setelah Pengasingan terhadap Sultan Hidayatulloh ke Cianjur oleh kolonial Belanda, perjuangan rakyat Banjar di teruskan di bawah kepemimpinan Pangeran Antasari.

Untuk menguatkan kedudukan Pangeran Antasari sebagai pemimpin perjuangan rakyat Banjar melawan penjajahan kolonial Belanda di kawasan bagian utara Banjar, pada tanggal 14 Maret 1862 Pangeran Antasari ditunjuk sebagai petinggi kesultanan Banjar atau ditunjuk sebagai Sultan Banjar dengan Gelar Panembah Amiruddin Khalifatul Mukminin.

Gelar tersebut sangat pantas diberikan Pangeran Antasari mengingat perjuangan beliau yang sangat gigih dalam membela tanah air tercinta ini.

Penunjukkan tersebut dilakukan di depan rakyat, bangsawan, pejuang dan juga panglima Dayak serta alim ulama. Penguatan tersebut dimulai dengan seruan. Dari situlah Pangeran Antasari resmi menjadi Sultan Banjar dengan gelar Panembah Amiruddin Khalifatul Mukminin.

Perjuangan Pangeran Antasari Melawan Penjajah

Ketika membahas tentang biografi Pangeran Antasari, membicarakan kepahlawanan perjuangan Pangeran Antasari dalam melawan penjajahan kolonial Belanda merupakan bagian yang paling menarik. Untuk itu, simak selengkapnya sampai bawah ya!

Pangeran Antasari melakukan penyerangan terhadap pasukan Belanda bersama 300 prajuritnya. Penyerangan ini ditujukan untuk menyerang pertambangan batu milik kolonial Belanda yang ada di Pengaron. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 25 April tahun 1859. Dengan dimulainya penyerangan inilah Perang Banjar pun pecah. Peperangan demi peperangan terus terjadi di seluruh wilayah Kerajaan Banjar.

Pangeran Antasari dibantu panglima dan pengikut setianya melakukan penyerangan terhadap pos-pos milik Belanda yang ada di Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut dan sepanjang Sungai Barito sampai Puruk Cahu.

Peperangan yang dilakukan pasukan dari Pangeran Antasari melawan pasukan Belanda semakin sengit. Saat itu Belanda sudah menggunakan persenjataan modern untuk melawan pasukan rakyat Indonesia. Belanda juga dibantu oleh pasukan Batavia untuk memperkuat pasukan.

Akhirnya Belanda berhasil mendesak Pangeran Antasari dan pasukannya. Pangeran Antasari kemudian memindahkan benteng pertahanannya ke Muara Taweh.

Belanda belum menyerah untuk menaklukkan kekerasan Pangeran Antasari dalam melawan penjajahan Belanda. Belanda terus membujuk Pangeran Antasari untuk menyerah kepada Belanda. Namun Pangeran Antasari tetap teguh pada pendiriannya.

Diriwayatkan juga dalam biografi Pangeran Antasari, saat itu Belanda sempat menawarkan sayembara bagi siapa pun yang dapat menangkap dan membunuh Pangeran Antasari akan diberikan hadiah sebesar 10.000 gulden. Namun tidak ada satupun yang mau menerima tawaran Belanda tersebut.

Wafatnya Pangeran Antasari

Dari berbagai sumber yang menjelaskan tentang biografi Pangeran Antasari, menyebutkan bahwa Pangeran Antasari wafat pada usia yang ke 75 tahun di Kampung Bayan Begok, Sampirang yaitu tepatnya pada tanggal 11 Oktober tahun 1862. Pangeran Antasari wafat di tengah pasukannya tanpa menyerah, tertangkap ataupun tertipu oleh Belanda.

Dalam biografi Pangeran Antasari juga disebutkan meninggalnya Pangeran Antasari disebabkan penyakit paru-paru yang menyerangnya serta penyakit cacar yang diderita setelah perang di bawah kaki Bukit Begantung, Tundukan. Dengan meninggalnya Pangeran Antasari, kepemimpinan diteruskan oleh putranya yang bernama Muhammad Seman.

Disebutkan juga dalam biografi Pangeran Antasari, kerangka Pangeran Antasari sempat dipindahkan ke Taman Makam Perang. Hal ini dilakukan atas persetujuan keluarga dan juga keinginan Banjar. Pemindahan kerangka Pangeran Antasari ke Taman Makam Perang Banjar yang ada di Kelurahan Surgi Mufti ini dilakukan setelah jasadnya terkubur selama 91 tahun di daerah Hulu, Sungai Barito.

Bagian tubuh Pangeran Antasari yang masih utuh dan dipindah makamkan adalah tulang tengkorak, tempurung lutut dan juga beberapa helai rambut.

Penghargaan Pangeran Antasari

Pada tanggal 23 Maret 1968 yang berlandaskan SK No. 06/TK/1968 oleh pemerintah RI Pangeran Antasari diberi gelar Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan. Untuk mengabadikan nama Pangeran Antasari ini, nama beliau digunakan sebagai nama Korem 101/ Antasari. Tempat kelahiran Pangeran Antasari yaitu Kalimantan Selatan juga mendapat julukan Bumi Antasari.

Bagaimana ? Menarik bukan membahas tentang biografi Pangeran Antasari secara mendalam? Salah seorang tokoh pahlawan dari Kalimantan Selatan yang penuh semangat perjuangan melakukan perlawanan terhadap penjajahan kolonial Belanda.

Bahkan karena begitu besarnya jasa beliau dalam membela tanah air, Kalimantan Selatan yang menjadi tanah kelahiran Pangeran Antasari mendapat julukan Bumi Antasari seperti yang sudah disebutkan di atas.

Dengan mengetahui biografi Pangeran Antasari di atas tentunya kita sebagai generasi pengisi kemerdekaan RI menjadi lebih semangat dan bangga dengan tanah tumpah darah tercinta ini. Sebab bukan hal yang mudah untuk memerdekakan RI, butuh perjuangan, pengorbanan dan hingga banyak sekali nyawa yang hilang demi bisa sepenuhnya mendapat gelar negara merdeka.

0 Response to "√ Biografi Pangeran Antasari, Sultan Banjar yang Gigih Melawan Penjajahan Kolonial Belanda "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel