Biografi Singkat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) - Ulama Pemersatu Bangsa - InBiografi | Referensi Biografi Tokoh Dunia

Biografi Singkat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) - Ulama Pemersatu Bangsa

Biografi Singkat KH Abdurrahman Wahid - Namanya begitu dikenang, tak hanya oleh seluruh umat muslim di tanah air. Namun, semua lapisan masyarakat dari berbagai latar belakang agama yang berbeda. Mantan presiden Republik Indonesia yang keempat ini menjabat setelah B.J Habibie. Lahir di kalangan keluarga yang kental akan ilmu agama, KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa dengan sebutan nama Gus Dur ini adalah sosok yang sangat dituakan.

Apa saja jasa beliau yang begitu besar bagi bangsa Indonesia dan bagaimana kisah hidup beliau selengkapnya? Mari simak ulasan kami di artikel Biografi KH Abdurrahman Wahid, berikut ini!
Biografi Singkat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Biografi KH Abdurrahman Wahid

Masa Kecil Gus Dur

Lahir di satu kota kecil yang begitu terkenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam ahlussunah wal jama’ah, Jombang, 7 September 1970. Gus Dur kecil terlahir dengan nama Abdurrahman Addakhil, atau yang berarti Sang Penakluk.

Sapaan Gus sendiri adalah sama halnya seperti gelar yang akrab di kalangan pesantren untuk menyebut seorang anak dari kyai mereka.

Ya! Gus Dur adalah seorang anak pemuka agama Islam atau kyai besar yang sangat di segani di seantero negeri bahkan hingga ke manca negara, yakni KH Wahid Hasyim.

Kyai Wahid Hasyim sendiri adalah putra dari Ulama sumur ilmu, ulama nya para ulama, dan gurunya para guru, beliau adalah Kyai Hasyim Asyari pendiri organisasi besar Nahdlatul Ulama (NU).

Gemblengan mental berdasarkan ilmu agama dari ayah dan kakeknya inilah yang membuat Gus Dur muda sedari kecil memang telah menampakkan diri sebagai bibit unggul dalam keluarganya.

Masa kecil Gus Dur, usia 4 tahun beliau pindah ke Ibukota karena kala itu sang Ayah adalah seorang Ulama yang juga aktif sebagai tokoh Nasionalis.

Hingga akhirnya, pada Agustus 1945 setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Gus Dur kembali ke kampung halaman di Jombang.

Disinilah gemblengan lahir-bathin Gus Dur kecil dimulai. Di sisa akhir hayat kakeknya, perhatian Kyai Hasim Asy’ari tertuju pada cucu laki-laki pertamanya itu.

Seakan beliau sudah membaca takdir esok hari, dimana keturunannya tersebut suatu saat akan menjadi seseorang yang berpengaruh dan disegani oleh manusia lainnya.

Namun sayang, gemblengan langsung dari sang kakek tak berlangsung lama. KH Hasyim Asyari terlebih dahulu dipanggil oleh Tuhan Sang Pencipta pada tahun 1947 atau saat Gus Dur berusia 7 tahun.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1949 Gus Dur beserta saudaranya yang lain pindah lagi ke Jakarta mengikuti kedua orang tuanya. Hal itu dikarenakan sang Ayah yang mendapat amanat menjabat sebagai Menteri Agama pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Jenjang Pendidikan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid)

Gus Dur pertama kali menempuh pendidikan di sekolah tingkat dasar, SD KRIS, Jakarta. Tak sampai lulus, Gus Dur lalu pindah ke SD Matraman Perwari.

Beberapa waktu sebelum hari kelulusannya di Sekolah dasar, Ayah beliau KH Wahid Hasyim meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.

Wafatnya ayah Gus Dur disebabkan karena beliau mengalami kecelakaan saat berkendara. Kejadian itu terjadi pada tahun 1953.

Lulus Sekolah Dasar, tahun 1954 Gus Dur melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP. Sayangnya, kala itu Gus Dur kecil tak naik kelas saat ujian kenaikan kelas dua SMP.

Hj. Sholehah ibunda Gus Dur lalu mengirim beliau ke Jogja untuk melanjutkan studi SMP sekaligus menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Krapyak, dibawah asuhan KH. Ali Maksum.

Dua tahun kemudian beliau lulus SMP, lalu mengembara lagi ke Magelang untuk memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Tegalrejo. Disana Gus Dur benar-benar serius memperdalam dan mempertajam pengetahuan ilmu agamanya.

Darah ulama yang mengalir ditubuh Gus Dur sepertinya berperan penting dalam proses beliau menuntut ilmu.

Selama Mondok Gus Dur termasuk santri yang istimewa, bagaimana tidak jenjang yang seharusnya ditempuh selama 4 tahun mampu beliau lalui dan lulus sempurna hanya dalam waktu 2 tahun.

Dari pondok Pesantren Tegalrejo, beliau melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Ponpes Tambak Beras Jombang, pada tahun 1959, sembari melanjutkan studi formalnya.

Selama itu juga Gus Dur mendapatkan pekerjaannya yang pertama sebagai salah seorang pengajar hingga naik menjadi kepala sekolah di salah satu Madrasah.

Setelah itu, beliau melanjutkan studi formalnya pada bidang ilmu agama di Universitas Al Azhar, Kairo Mesir. Lalu, beliau juga melanjutkan studi pasca sarjana Universitas Baghdad, hingga sempat juga ke Universitas Leiden Belanda.

Karier Gus Dur Hingga ke Kursi Presiden

Perjalanan Gus Dur dalam meniti kariernya cukup panjang dan berliku. Selain menjadi guru, beliau juga pernah bekerja pada bidang jusnalistik atau menjadi kontributor di berbagai media cetak.

Dari situ beliau lalu merambah ke tingkat yang lebih tinggi setelah banyak dipercaya untuk menjadi seorang komentator sosial.

Meskipun kehidupan Gus Dur sudah cukup terjamin dengan pekerjaan yang telah dijalani, tapi bukan Gus Dur namanya kalau tidak berperilaku nyentrik yang terkadang dianggap aneh.

Bagaimana tidak, sering memberikan seminar dan kuliah-kuliah di Universitas ternama, ternyata di Jombang beliau juga masih sempat mencari sampingan dengan jualan es dan kacang.

Pekerjaan itu beliau jalani hingga tahun 1977, dimana saat itu Gus Dur diangkat menjadi Dekan di Universitas Hasyimm Asyari untuk Fakultas Praktik dan Kepercayaan.

Terpilih Menjadi Presiden

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Menjadi Presiden
Kita loncat jauh kedepan setelah masa kejayaan ORBA (Orde Baru) runtuh. Tahun 1999 bulan Juni, adalah detik-detik lengsernya presiden RI ke-3 B.J Habibie.

Saat itu PKB yang telah ikut serta dalam pemilihan umum legislatif mendapatkan perolehan suara sebanya 12%. Sedangkan PDI-P rivalnya mendapatkan 33% suara.

Meskipun unggul, namun PDIP tak memiliki mayoritas penuh kursi hingga hal itu mamaksanya untuk kemudian beraliansi dengan PKB.

Satu bulan kemudian, tokoh reformasi Amien Rais mengumumkan partai Poros tengah yang terdiri dari koalisi partai-partai umat muslim di Indonesia.

Oktober 1999, Abdurrahman Wahid dipilih untuk menjadi calon wakil Presiden yang diusung oleh poros tengah.

19 Oktober 1999, dalam sidang MPR menolak tegas pidato pertanggungjawaban dari Presiden Habibie. Hal itu menjadi alasan hari berikutnya MPR harus segera memilih presiden baru.

Gus Dur maju sebagai salah satu calon Presiden ke-4, dan akhirnya beliau memenangkan pemilu dengan perolehan suara sebesar 370an suara. Pada saat itu juga, Gus Dur resmi menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia ke-4.

Akhir Hayat Gus Dur (Wafatnya K.H Abdurrahman Wahid)

Gus Dur Wafat
30 Desember 2009 adalah hari kelabu bagi seluruh masyrakat Indonesia, umat muslim di tanah air, terutama para warga nahdliyin. Hari itu adalah hari dimana Gus Dur menghembuskan nafas terakhirnya. Beliau meninggal di usia 69 tahun karena penyakit yang telah sejak lama di deritanya. Kisah tersebut juga sekaligus menutup Kisah Biografi KH Abdurrahman Wahid.

0 Response to "Biografi Singkat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) - Ulama Pemersatu Bangsa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel