Biografi Sri Sultan Hamengkubuwono IX Lengkap, Penguasa Singasana Kraton Yogyakarta - InBiografi | Referensi Biografi Tokoh Dunia

Biografi Sri Sultan Hamengkubuwono IX Lengkap, Penguasa Singasana Kraton Yogyakarta

Biografi Sri Sultan Hamengkubuwono IX – Jika kita menengok jauh ke belakang, dimana rakyat di tanah air hidup sengsara digenggaman para penjajah, jasa penguasa Kraton Yogyakarta tak bisa dengan mudah kita lupakan.

Begitu besar cita-cita dan upaya beliau untuk mensejahterakan tak hanya rakyatnya saja, bahkan seluruh warga yang hidup di Indonesia. Lalu, siapa sebenarnya beliau ini?

Bagaimana sejarah kehidupannya hingga namanya selalu dikenang sebagai salah satu pahlawan kemerdekaan Republik Indonesia? Simak selengkapnya, hanya di artikel Biografi Sri Sultan Hamengkubuwono IX kali ini.

Biografi Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Biografi Sri Sultan Hamengkubuwono IX  Lengkap
Sri Sultan Hamengkubuwono IX (id.wikipedia.org)
Beliau adalah seorang bangsawan yang sejak kecil telah digadang-gadang oleh kedua orang tuanya, bahkan seluruh rakyat Yogyakarta.

Terutama sang Ayah, yang memang menyiapkan jiwa dan raga beliau untuk menjadi Pangeran Pati atau pengganti Raja kelak ketika sang ayah Sultan Hamengkubuwono VIII, telah lengser keprabon.

Sri Sultan Hamengkubuwono adalah putra laki-laki dari istri kelima Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, yakni Raden Ajeng Kustilah atau permaisuri Raden Ayu Adipati Anom Hamengkunegara.

Beliau lahir pada tanggal 12 April 1912 dengan nama Bendoro Raden Masa Dorodjatun. Penyiapan RM Dorodjatun untuk menjadi pengganti Raja sudah terlihat sedari muda, dimana gemblengan yang diberikan pada dirinya terlihat berbeda dengan yang lain.

Selain itu, beliau juga telah mendapatkan mandat untuk ikut serta dalam pengawasan laju pemerintahan dibalik benteng Kasultanan Yogyakarta.

Sampailah beliau pada puncak pencapaian hidupnya, dimana Raden Mas Dorodjatun telah benar-benar mampu dan menguasai segala bidang termasuk urusan pemerintah. Hingga pada 18 Maret 1940, saat berusia 28, beliau diwisudha menjadi Raja di Kesultanan Yogyakarta.

Saat itu juga beliau resmi menyandang nama Sri Sultan Hamengkubuwono IX dengan gelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati ing Alaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah inkang Jumeneng Kaping Sanga.

Profil Pendidikan Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Tak hanya pendidikan adat dan formalitas dalam Kraton yang beliau dapatkan, namun Sri Sultan Hamengkubuwono muda juga mengenyam pendidikan di luar benteng Kraton.

Pendidikan pertamanya didapatkan dari sekolah elit yang ada di Yogyakarta zaman pemerintahan Hindia Belanda, yakni Europeesche Lgere School.

Lalu, pada tahun 1925, ketika beliau telah berumur 13 tahun jenjang pendidikannya berlanjut di sebuah sekolah di Semarang. Hoogere Burgerschoole Semarang hingga ke Hoogere Burgerschool di Bandung, Jawa Barat.

Setelah beliau menamatkan sekolah dasar hingga lanjutan, capaian pendidikan di tingkat perkuliahan beliau dapatkan dari Rijkuniversiteit atau yang juga disebut Universiteit Leiden, Belanda

Perjuangan Sri Sultan Hmaengkubuwono IX di Masa Penjajahan

Baik pada masa penjajahan Belanda hingga Jepang, beliau Sri Sultan Hamengkubuwono adalah salah seorang tokoh yang dikenal begitu keras menentang kebijakan-kebijakan penjajah.

Demi kesejahteraan rakyatnya, di usia yang masih terhitung muda beliau sudah terlibat diplomasi dua arah yang sangat alot dengan seorang tokoh diplomat senior dari pemerintahan Hindi-Belanda, yakni Dr. Lucien Adam. Kala itu, yang beliau perjuangkan adalah tentang otonomi daerah Yogyakarta.

Begitu juga pada masa penjajahan Jepang. Beliau begitu getol dalam melindungi rakyatnya agar tidak terjerat dalam romusha, yang mana kala itu Jepang akan membuat sebuah proyek pembangunan selokan Mataram.

Jasa Sri Sultan Hamengkubuwono IX Menjaga Keutuhan NKRI

Setelah Indonesia merdeka, keadaan perekonomian di tanah air pada masa pasca kemerdekaan sangatlah memprihatinkan.

Negara sama sekali tak memiliki kas, perputaran ekonomi di sektor pertanian dan industri juga macet karena lahan yang habis dan rusak akibat perang.

Indonesia dalam fase kritis ekonomi pada saat itu, masyarakat dilanda kekeringan dan kelangkaan pangan.

Kondisi tersebut terjadi hampir di seluruh wilayah NKRI, termasuk Yogyakarta sendiri. Melihat kondisi tersebut, Sri Sultan Hamengkubuwono tak tinggal diam.

Beliau membuka brankasnya dan menyerahkan secara cuma-cuma simpanan kekayaan senilai lebih dari 6.000.000 Gulden untuk modal Indonesia.

Pemberian dari Sri Sultan inilah yang digunakan pemerintah untuk menyeimbangkan kembali perekonomian negara, termasuk menggaji seluruh pegawai negeri kala itu.

Beberapa waktu setelahnya, bertepatan usai perjanjian Renvile 22 Desember 1948, Belanda melakukan penyerbuan besar-besaran dengan target penyerangan ibukota negara, yang kala itu telah pindah ke Yogyakarta.

Pada penyerbuan tersebut, beberapa tokoh besar negara termasuk Bung Hatta dan Muh Syahrir ditangkap lalu dibuang ke Bangka. Sultan tak ikut ditangkap karena upaya Belanda agar beliau mau diajak kerjasama.

Namun, ternayata hasilnya tak seperti yang dibayangkan, beliau menolak dengan tegas bahkan mengeluarkan surat keputusan pengunduran diri sebagai kepala daerah Yogyakarta.

Pengunduran diri dari Sri Sultan tersebut lalu juga diikuti oleh Sinuhun Paku Alam.

Tindakan tersebut adalah satu upaya Sri Sultan untuk mengelabui Belanda. Dibelakang Belanda, secara sembunyi-sembunyi beliau terus mengalirkan bantuan untuk para tentara pejuang dan seluruh anggota pemerintahan RI.

Puncaknya, beliau juga terlibat dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Serangan ini dengan tegas memberitahukan kepada dunia, bahwasanya Republik Indonesia masih ada dan masih kokoh berdiri.

Akhir Hayat Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Tak hanya sebagai penguasa Kraton Yogyakarta, di struktur pemerintahan Indonesia juga Sri Sultan Hamengkubuwono memiliki kedudukan yang penting.

Sejak 1946 hingga 1966 beliau beberapa kali menjabat menteri dalam kabinet susunan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Beliau juga pernah menjabat sebagai wakil presiden RI pada tahun 1973.

5 tahun setelahnya beliau diminta untuk kembali menjabat sebagai Wapres, namun beliau Sri Sultan Hamengkubuwono menolak dengan alasan usia yang sudah senja.

Minggu malam waktu Amerika Serikat, tepatnya tanggal 2 Oktober 1988 menjadi kabar yang mengejutkan bagi seluruh warga RI, khususnya masyarakat Jogja.

Sosok yang mereka banggakan telah kembali kehadirat Tuhan, mengakhiri kisah biografi Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Pusara beliau terletak di Makam Imogiri, Bantul, DIY, Indonesia.

Biodata Sri Sultan Hamengkubuwono IX Singkat

Nama : Sri Sultan Hamengkubuwana IX
Nama Lahir : Gusti Raden Mas Dorodjatun
Lahir : Ngayogyakarta Hadiningrat, 12 April 1912
Meninggal : Washington, DC, Amerika Serikat, 2 Oktober 1988
Umur : 76 Tahun
Ayah : Sri Sultan Hamengkubuwana VIII (Gusti Raden Mas Sujadi)
Ibu : Kangjeng Raden Ayu Adipati Anom Hamengkunegara
Jabatan :
  • Sultan Yogyakarta ke-9
  • Menteri Negara Indonesia
  • Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta ke-1
  • Menteri Pertahanan Indonesia ke-3
  • Wakil Perdana Menteri Indonesia ke-5
  • Ketua Kwartir Nasional ke-1
  • Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri Indonesia ke-1
  • Wakil Presiden Indonesia ke-2
Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Bapak Pramuka Indonesia
Bapak Pramuka Indonesia

Penutup

Demikian ulasan terkait biografi Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang dapat kami sajikan untuk anda. Salah satu pesan penting yang dapat kita ambil dari kisah hidupnya adalah beliau rela berkorban untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Semoga bermanfaat!

0 Response to "Biografi Sri Sultan Hamengkubuwono IX Lengkap, Penguasa Singasana Kraton Yogyakarta"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel