Biografi Singkat Sultan Ageng Tirtayasa, Raja dan Kesatria Pembela Bangsa Indonesia - InBiografi | Referensi Biografi Tokoh Dunia

Biografi Singkat Sultan Ageng Tirtayasa, Raja dan Kesatria Pembela Bangsa Indonesia

Biografi Singkat Sultan Ageng Tirtayasa - Nama asli beliau adalah Abdul Fatah atau yang juga disebut dengan nama Abu Al-Fath Abdul Fattah. Beliau adalah seorang Sultan yang berkuasa di tanah Banten setelah menggantikan tampuk kekuasaan dari Sang Ayah, Sultan Abu al Ma’ali Ahmad. Ibunya adalah seorang putri dari cantik keturunan Pangeran Jakarta, yakni Ratu Martakusuma.

Dari garis keturunan sang Ayah, dalam diri Sultan Ageng Tirtayasa masih mengalir darah Sunan Gunung Jati.

Diketahui bahwa sang Ayah adalah cucu dari Pangeran Hasanuddin atau Panembahan Sosrowanan, putra Kanjeng Sunan Gunung Jati.

Dengan demikian jelaslah sudah bahwa Sultan Ageng Tirtayasa adalah cicit dari Sunan Gunung Jati.
Biografi Singkat Sultan Ageng Tirtayasa
Sultan Ageng Tirtayasa

Kejayaan Banten di tangan Sultan Ageng Tirtayasa

Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa di Kesultanan Banten dimulai pada tahun 1651 Masehi. Beliau merupakan Sultan atau Raja keenam Banten.

Kala wisuda pengangkatannya, Sultan Ageng Tirtayasa masih dalam usia yang cukup belia. Dari muda memang Sultan Ageng Tirtayasa sangat tertarik dengan ilmu-ilmu keagaman, khususnya Islam.

Keseriusannya dalam mepertebal keimanan serta ilmu Islam dibuktikannya dengan mengundang banyak ulama' ahli agama dari Arab dan daerah Serambi Mekah Aceh untuk memberikan pengetahuan agama Islam kepada para pembesar hingga abdi dalem Kesultanan.

Selain ahli dalam bidang keagamaan, Sultan Banten ke-6 ini juga cukup masyhur sebagai seorang kesatria yang menguasai startegi peperangan.

Maka, tak aneh lagi bila pada masa pemerintahannya, Banten berhasil meraih masa kejayaan.

Meskipun demikian, bukan hanya kekuasaan dan peperangan saja yang bisa membuat nama Kesultanan Banten menjadi besar dan disegani, melainkan jalinan silaturahmi atau hubungan diplomatik Sulta Ageng Tirtayasa dengan para Raja di Kerajaan lain yang juga terbangun sangat baik.

Hubungan diplomasi Sultan Aeng Tirtayasa tak terbatas pada seluruh Kerajaan di Nusantara saja.

Ia juga menjalin silaturahmi serta kerja sama perdagangan serta politik dengan Kerajaan-kerajaan besar di tanah Eropa, Turki, Perancis hingga ke Denmark.

Nah, karena hubungan yang terjalin erat inilah yang menjadi alasan kenapa Pelabuhan Banten menjadi sentra perdagangan para saudagar dari Arab, China, India, dan sebagainya.

Perlawanan Sengit Sultan Ageng Tirtayasa Kepada Penjajah Belanda

Di masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa inilah Belanda dan segala upayanya merebut harta di Nusantara semakin jelas terlihat.

Sultan Ageng tirtayasa yang mencium aroma penjajahan itu dengan keras menolak hadirnya Belanda dan apapun yang mereka lakukan di bumi kekuasaannya.

Akhirnya, konflik antara Belanda dan Kesultanan Banten pun semakin memanas serta tak dapat diredam lagi.

Amarah Penguasa Banten memuncak, terlebih ketika Belanda telah mulai masuk dan mencampuri urusan internal kerajaan.

Puncak konflik terjadi ketika Belanda melancarkan maksud pemisahan kekuasaan. Mereka menggunakan politik pecah belahnya yang terkenal mematikan atau yang disebut Devide et Impera.

Kala itu, Sultan Haji atau yang bernama Abu Nasr Abdul Kahar dihasut oleh Belanda dan mengoborinya untuk mau memerangi Pangeran Purubaya yang notabene mereka berdua adalah saudara. Sultan Haji termakan buaian Belanda melalui VOC.

Ia menyangka bahwa pemisahan wilayah pemerintahan hanyalah tak-tik busuk untuk menyingkirkan dirinya sebagai pewaris tahta kerajaan.

Tak hanya itu, Sultan Haji juga mengira bahwa kekuasaan akan dialih tangankan kepada sang Adik yaitu Pangeran Arya Purubaya.

Perang keluarga antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan Sultan Haji tak bisa dipisahkan lagi. Upaya pemecah belahan oleh Belanda dan VOC berhasil.

Dengan segenap kekuatannya, Sultan Ageng Tirtayasa dengan para pasukan mengepung mundur pasukan Sultan Haji di suatu wilayah Banten yang disebut Sosrowanan.

Namun, tanpa mereka sangka Belanda yang licik berada di belakang pasukan Sultan Haji dan balik menyerang mereka. Pasukan Belanda kala itu dipimpin oleh Saint Mastin dan Kapten Tack.

Kematian sang pahlawan perjuangan dari Banten, Sultan Ageng Titayasa

Selama perang keluarga berkecamuk di tanah Banten yang terjadi cukup lama, sangat mempengaruhi tatanan pemerintahan dan meredupkan pamor Kesultanan Banten.

Hingga pada akhirnya, perlawanan dari Sultan Ageng Tirtayasa pun usai ketika ia tertangkap oleh VOC dan dibawa ke markas besar di Batavia.

Disana Sultan Ageng Tirtayasa mendapatkan hukuman, dan dipenjarakan karena memerangi Belanda. 5 tahun di dalam sel, yakni dari tahun 1682 hingga 1692, akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa mengehembuskan nafas terakhirnya.

Sultan Ageng Tirtayasa wafat dan kemudian jasadnya dibawa kembali ke Banten untuk kemudian di makamkan di Makam Raja-Raja Banten.

Karena jasa-jasanya dan perjuangannya yang gigih melawan segala penindasan dan kekejaman para kaum penjajah, Pemerintah Indonesia secara khusus memberikan gelar kepahlawanan kepada beliau.

Gelar tersebut disahkan dengan keluarnya SK Presiden RI No. 045/TK/Tahun1970 pada tanggal 1 Agustus 1970 silam.

Sebagai warga negara dan generasi muda penerus perjuangan leluhur, sudah selayaknya kita terus mengenang jasa-jasa beliau para pahlawan.

Tanpa perjuangan para pahlawan, seperti ulama’ dan Raja kesatriya Nusantara Sultan Agung Tirtayasa, kita tak mungkin merasakan kebebasan yang penuh arti seperti saat ini.

0 Response to "Biografi Singkat Sultan Ageng Tirtayasa, Raja dan Kesatria Pembela Bangsa Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel