Biografi Singkat Tuanku Imam Bonjol - Imam Besar Kaum Padri - InBiografi | Referensi Biografi Tokoh Dunia

Biografi Singkat Tuanku Imam Bonjol - Imam Besar Kaum Padri

Biografi Singkat Tuanku Imam Bonjol – Kebebasan, hidup damai, aman dan sejahtera yang saat ini telah bisa kita rasakan bersama, bukanlah sesuatu yang langsung ada begitu saja. Semuanya itu adalah hasil dari jerih payah dan perjuangan dari para leluhur Indonesia, pencetak kemerdekaan. Termasuk salah satunya adalah pejuang kemerdekaan yang sudah sejak Sekolah Dasar, namanya selalu kita kenang. Siapa dia? Ya! Seperti yang kamu lihat di gambar, beliau adalah yang sering kita sebut namanya dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol.

Profil dan Biografi Tuanku Imam Bonjol

Biografi Singkat Tuanku Imam Bonjol - Imam Besar Kaum Padri
Source: id.pinterest.com
Nama dan foto Tuanku Imam Bonjol tentu sudah tak asing lagi kita dengar. Masyarakat dari berbagai kalangan, baik yang tua hingga yang muda tentu semua sudah mengenal beliau, meskipun hanya beberapa profil dan sejarah singkatnya.

Nah, di artikel kali ini kita akan mengajak kamu semuanya menengok kembali sejarah masa silam di era perjuangan Tuanku Imam Bonjol.

Beliau, memiliki dua gelar yang tak bisa terlupakan. Selain sebagai seorang pejuang yang rela hati mengorbankan jiwa dan raganya untuk kemerdekaan bangsa Indonesia, Tuanku Imam Bonjol juga seorang Ulama’ tersohor.

Beliau adalah pengajar ilmu agama yang memiliki murid sangat banyak, dari kalangan pembesar hingga santri-santri pondok yang berstatus rakyat biasa.

Nama asli beliau adalah Muhamad Shahab. Lahir di daerah Bonjol, Provinsi Sumatera Barat pada tahun 1772. Latar belakang pendidikan agama sudah didapat semenjak kecil dari kalangan keluarga.

Ayah beliau, Imam Bayanuddin juga seorang ulama’ besar yang hidup dan tinggal di daerah Sungai Rimbang, Suliki.

Landasan ilmu agama yang didapatkan dari sang Ayah menjadi modal besar beliau untuk pergi menuntut ilmu di bumi Serambi Mekkah, yakni Aceh pada tahun 1800.

Dua tahun beliau menuntut ilmu, Di usia yang ke 34, beliau mendapatkan gelar Malin Basa di Aceh.

Jiwa alim dan kepimpinan beliau semakin terlihat seiring dengan dewasanya usia. Selain Malin Basa, Tuanku Imam Bonjol juga diketahui memiliki banyak gelar atau sebutan nama yang lain, diantaranya adalah Peto Syarif, Tuanku nan Renceh dari Kamang.

Sedangkan nama Tuanku Imam Bonjol adalah sebuah gelar yang menyatakan bahwa beliau merupakan pemimpin umat para kaum Padri yang hidup di Bonjol.

Perjuangan Tuanku Imam Bonjol Membela Agama dan Bangsanya

Gejolak perbedaan di antara kaum Padri dan kaum adat yang semakin memanas, memicu timbulnya konflik besar diantara keduanya.

Puncak dari kekisruhan dua kubu, yakni kaum adat dan kaum padri di bawah naungan Kerajaan Pagaruyung adalah ketika timbul niat para ulama’ besar kerajaan yang menghendaki tegaknya hukum syariat Islam berasas Ahlussunah Wal Jama’ah di Pagaruyung.

Namun, niat tersebut tak mendapatkan respon baik dari kaum adat. Bahkan, para pembesar kaum adat terang-terangan menentang maksud tersebut.

Ujung dari kekalutan tersebut mulai nampak, Para pemimpin ulama’ Kerajaan Paguruyung yang tergabung dalam lingkup Harimau nan Salapan termasuk Tuanku Imam Bonjol mengirim salah satu wakil.

Tuanku Linkau adalah yang dipilih untuk menemui Yang Dipertuan Pagaruyung dan para tetua kaum adat.

Para ulama’ meminta kepada agar segala penyimpangan adat yang bertentangan dengan ajaran Agama Islam untuk segera ditinggalkan. Kaum adat menolak, dan pecalah perang antara keduanya tepat pada taun 1815.

Kaum Padri dengan segenap kekuatan menyerbu Pagaruyung, pusat perang terjadi di sekitar wilayah Koto Tangah.

Disana jugalah pasukan kaum adat tergeser dan tak mampu membendung serangan kaum Padri.

Hingga kondisi tersebut memaksa Sultan Arifin Muningsyah yang berhasil menyelamatkan diri, lari menuju ke wilayah Lubukjambi.

Kaum adat yang kalah perang dengan kaum Padri meminta bantuan pada penjajah Hindia-Belanda. Secara resmi kerja sama tersebut ditanda tangani pada tanggal 21 Februari 1821.

Dalam penanda tanganan perjanjian kerja sama antara kaum adat dan Hindia-Belanda di yang digelar di Padang itu, sebagai imbal balik pemerintah Belanda mendapat kesempatan untuk memperluas wilayah dan menguasai daerah Darek.

Darek sendiri adalah satu wilayah yang berada di sekitar wilayah Minangkabau pedalaman. Sebagai saksi dari Pagaruyung turut hadir juga kerabat Istana yakni Sultan Tangkal Alam Bagagar dan para pengikutnya.

Jadilah kaum adat dan Hindia-Belanda bersama-sama menyerang kaum Padri, yang kala itu sudah berada dibawah kepemimpinan Tuanku Imam Bonjol.

Namun, setangguh apapun Belanda masih saja kewalahan menghadapi perjuangan Tuanku Imam Bojol dan kaum padri.

Mereka membuat siasat dengan perjanjian Masang, berisi kerjasama perdamaian pada tahun 1824.

Namun, beberapa waktu kemudian Belanda ingkar janji. Perjanjian tersebut gugur setelah dengan licik Belanda menyerang Pandai Sikek.

Bersatunya Kaum Adat dan Kaum Padri Melawan Penjajah

Beberapa lama dibodohi oleh Belanda, akhirnya kaum adat sadar. Secara resmi pada tahun 1833, posisi peperangan berubah, jika sebelumnya kaum adat bekerja sama dengan Belanda untuk memerangi kaum Padri.

Kini kaum adat dan kaum Padri berjuang bersama mengusir penjajah Belanda. Perjanjian damai yang digelar di Tabek Patah ini diabadikan dalam sebuah momen yang kemudian dikenal dengan istilah Plakat Puncak Pato.

Perjanjian tersebut lalu mewujudkan satu rumusan adat yang berdasarkan kepada aturan agama atau yang disebut Adat Basandi Syarak.

Di Bonjol, 3 bulan lamanya Belanda mengepung benteng kaum Padri yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol.

3 kali serbuan ke benteng, ribuan pasukan tak berhasil menembus benteng sederhana yang hanya terbuat dari tanah liat dan batasan parit yang mengelilingi itu.

Hingga akhirnya, Belanda kembali menggunakan akal bulusnya.

Akhir Perjuangan Tuanku Imam Bonjol

Dengan liciknya Belanda mengundang Tuanku Imam Bonjol untuk datang dalam perundingan damai.

Tapi, sesampainya di tempat undangan, Tuanku Imam Bonjol justru ditangkap dan dibuang jauh ke Cianjur, Jawa Barat pada tahun 1837. Dari Cianjur beliau lalu dibuang lagi ke Ambon. Lalu, terakhir ke Minahasa.

Nah, di tempat pengasingan yang terakhir itulah beliau sang ulama besar dan pejuang sejati gugur. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada 8 November 1864, di Lotak Minahasa.

Nama Tuanku Imam Bonjol, selalu dikenal sebagai pahlawan Nasional dan pejuang kemerdekaan. Secara resmi pemerintah Republik Indonesia memberikan penghargaan gelar pahlawan pada Tuanku Imam Bonjol pada tanggal 6 November 1973, silam.

0 Response to "Biografi Singkat Tuanku Imam Bonjol - Imam Besar Kaum Padri"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel